Bahasa Indonesia berangkat dari kesalahan-kesalahan, sehingga pemeo baik dan benar akhirnya terkesan sebagai gagasan repot, untuk tidak mengatakan mengada-ada. Kita akan melihat sebentar lagi bahwa kesalahan yang terjadi dalam pertumbuhan bahasa Indonesia terdiri atas 2 peristiwa, yaitu kesalahan persepsidan kesalahan transkripsi. Kedua-duanya, percayalah sangat menarik. Kita akan mulai dari yang salah persepsi.
- Kepala. Asal-usul perkataan ini dari istilah arsitektur bahasa Italia, cupola, yaitu bagian paling tinggi yang terletak di atas atap bangunan, sebagai tambahan atau hiasan pengindah gedung. Selanjutnya sirah, hulu, tendas, berubah jadi kepala disesuaikan dengan yang di atas gedung.
- Mariam (meriam). Ketika bangsa Melayu masih menembak denagn panah dan sumpit, bangsa Portugis datang membawa kanon yang dapat meledakkan bunyi gempita. Melihat orang Portugis menembak dengan membuat tanda salib sembari mengucapkan nama Maryam bunda Almaseh Isa, maka selanjutnya benda itu disebut mariam.
- Cinta. Sebetulnya perkataan ini dalam bahsa Spanyol berarti tali pita. Di Indonesia Timur, orang yang di pertunangkan harus mengucapkan kasih sayangnya di bawah ikatan tali cinta tersebut, maka selanjutnya cinta pun berubah menjadi padanan kasih.
- Roti. Perkataan ini berasal dari bahasa Belanda, brood yang dulu dijajakan di Bataavia dengan kereta kayuh, sambil diteriakan dengan tambahan 'iii', daan akhirnya terkupingkan menjadi 'brootiii'.
- Minggu. Dalam bahasa portugis lama, Domingo, berarti Tuhan. Demi Domingo mereka pergi ke gereja untuk ibadah pada hari Ahad. Akhirnya Ahad berubah menjadi Minggu.
- Kodak. Pada zaman lampau hanya ada satu merek kamera dan film yang ada di Indonesia. Oleh karena itu kegiatan fotografi pun disebut sebagaai kodak. Tukang foto disebut "Mat Kodak".
Sumber: INTISARI (Bahasa Menunjukkan Bangsa, Alif Danya Munsyi alias Remy Silado, Kepustakaan Populer Gramedia/emshol)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar