Senin, 28 November 2011

Sejarah Singkat Sang Buddha

Raja Suddhodana Gautama dengan permaisurinya Dewi Mahamaya yang cantik jelita memerintah kerajaan di Kapilawastu bagian selatan pegunungan Himalaya dengan adil dan bijaksana. Walaupun telah menikah 20 tahun lamanya, tetapi belum dikarunia seorang putrapun. Sampai pada suatu malam, Dewi Mahamaya bermimpi melihat seekor gajah putih yang untuk kemudian permaisuri lalu mengandung.
Menurut adat kebiasaan yang berlaku, permaisuri harus melahirkan di rumah orang tuanya, sehingga pada saat akan melahirkan, pergilah Dewi Mahamaya ke istana orang tuanya di kerajaan Koliya. Dalam perjalanan, Dewi Mahamaya berhenti untuk beristirahat di taman Lumbini. Pada saat beristirahat, lahirlah putranya.
Semua orang merasa bahagia, bahkan langit dan bumi seolah-olah turut juga menyambut kegembiraannya atas kelahiran putra Baginda yang jatuh pada saat bulan Purnama Siddhi di bulan Waisak (versi Buddhisme Mahayana, 566 SM hari ke - 8 bulan ke-4 menurut kalender lunar. Versi World Fellowship of Buddhist, bulan Mei tahun 623 SM).
Pada hari ke-lima kelahiran Pangeran, Baginda memberikan nama kepada putranya, Siddharta, yang berarti ‘tercapailah cita-citanya'. Dewi Mahamaya wafat seminggu setelah melahirkan putranya. Adiknya Dewi Mahaprajapati untuk kemudian diserahi tugas dan tanggung jawab dalam mengasuh dan mendidik Pangeran Siddharta.
Pada suatu hari, pertapa Asita yang berdiam di pegunungan dekat istana raja Suddhodana memperhatikan sinar yang memancar terang di istana dan memutuskan untuk mengunjungi istana. Baginda menyambut kedatangan pertapa Asita sambil memperlihatkan putranya. Begitu melihat Pangeran Siddharta, pertapa Asita menangis terharu sambil mengatakan, " Sayang sekali, hamba sudah tua, kelak hamba tidak akan sempat menerima ajaran Sang Buddha, oh ! " (Buddha berasal dari Budh, yang artinya kesadaran. Buddha berarti orang yang telah mencapai kesadaran sempurna). Baginda merasa terkejut dan meminta penjelasan lebih lanjut dari pertapa Asita yang menambahkan, " Kelak dia akan meninggalkan istana untuk pergi bertapa mencari kesadaran sempurna. Baginda seharusnya bahagia, karena Pangeran adalah Permata Dunia yang mampu membebaskan makhluk-makhluk dari penderitaan. Dia adalah cahaya abadi dunia yang tak kunjung padam ".
Kata-kata pertapa Asita membuat Baginda tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian. Sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.
Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Tetapi Pangeran Siddharta kurang berminat dengan pelajaran tersebut. Pangeran Siddharta mendiami tiga istana, yaitu istana musim semi, musim hujan dan pancaroba. Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi.
Suatu hari Pangeran Siddharta meminta ijin untuk berjalan di luar istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya Empat Kondisi yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang suci. Sehingga Pangeran Siddharta bersedih dan menanyakan kepada dirinya sendiri, " Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini ! ". Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut.
Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya Canna. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa.
Didalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya . Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna.
Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magada untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi sungai Nairanjana yang mengalir dekat hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakekat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.
Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasehati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan, " Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu."
Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon Bodhi (Asetta) di hutan Gaya, sambil berprasetya, "Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan , tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna."
Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat itu. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur. Sekarang pertapa Gautama menjadi terang dan jernih, secerah sinar fajar yang menyingsing di ufuk timur. Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha [Sammasam-Buddha], tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika Beliau berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender Lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Beliau memancarkan enam sinar Buddha [Buddharasmi] dengan warna warni Biru yang berarti bhakti; Kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; Merah yang berarti kasih sayang dan welas-asih; Putih mengandung arti suci; Jingga berarti giat; dan campuran ke-lima sinar tersebut.
Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain : Buddha Gautama, Buddha Shakyamuni, Tathagata ('Ia Yang Telah Datang', Ia Yang Telah Pergi'), Sugata ('Yang Maha Tahu'), Bhagava ('Yang Agung') dan sebagainya. Lima pertapa yang mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha yang mendengarkan khotbah pertama [Dharmacakra Pravartana/Dhammacakka Pavattana], dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukanNya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan Empat Kebenaran Mulia.
Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, dimana Beliau mengetahui bahwa tiga bulan lagi Beliau akan Parinibbana.
Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon Sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswaNya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).

Sumber: http://bodhicita.blogspot.com/2008/08/sejarah-singkat-sang-budha.html

Sabtu, 26 November 2011

JANJI PEMABUK


          Alkisah, seorang pemabuk berjalan sempoyongan  pulang ke rumah di malam hari. Di tengah jalan ia dicegat oleh dua orang begal. “Serahkan semua uangmu!” kata salah satu dari perampok.
          Si pemabuk dengan gemetar meraba-raba kantung bajunya untuk mencari uang yang seingatnya masih ada di kantung bajunya. Tapi ia heran karena tangannya tak menemukan apa-apa.
          “Kalau kamu tak menyerahkan uangmu, kamu akan kami bunuh!” perampok kedua mengancam sambil menempelkan ujung pisaunya di leher si pemabuk. Dengan gemetar, ia menjawab “Beri aku waktu sebentar.” Perampok itu menarik kembali pisaunya.
          Pemabuk itu lalu berlutut di tanah, kedua telapak tangannya menengadah ke langit. Ia berdoa dalam hati, “Tuhan, tolonglah aku. Jika Engkau selamatkan aku dari para perampok ini,aku berjanji tidak akan mabuk-mabukan lagi.”
          Begitu selesai berdoa, ia merasa ada sesuatu yang jatuh ke dalam kantung bajunya. Ternyata sekeping uang perak. Menyadari ia sudah mendapatkan apa yang ia butuhkan, ia segera melanjutkan, “Tuhan, lupakan doaku.”
          Ini hanya anekdot lawas. Mungkin anda sering menjumpainya dalam versi yang berbeda. Seperti biasa anekdot ini menyindir perilaku kita lewat kelakuan si pemabuk. Pemabuk itu menganggap uang yang jatuh di dalam bajunya bukan pemberian Tuhan atas doanya sehingga ia punya alasan untuk tetap mabuk-mabukan lagi.
          Ini persis seperti kelakuan kita. Kita begitu mudah berjanji, sering kali atas nama Tuhan, dan begitu mudah pula melupakannya. Saat dilantik memegang jabatan atau profesi, kita bersumpah. Saat menikah kita berjanji. Waktu berbisnis dengan orang lain, kita juga berjanji. Tapi betapa mudah kita melanggar  janji yang sudah kita sepakati itu. Lebih buruk lagi, kita tidak pernah mau mengakui bahwa kita telah melanggar janji. Kita menganggap gaji yang kita terima atau kesetiaan pasangan itu sebagai uang koin yang jatuh begitu saja dari baju kita.

Sumber: INTISARI (emshol)

Selasa, 22 November 2011

ASAL-USUL KATA

Bahasa Indonesia berangkat dari kesalahan-kesalahan, sehingga pemeo baik dan benar akhirnya terkesan sebagai gagasan repot, untuk tidak mengatakan mengada-ada. Kita akan melihat sebentar lagi bahwa kesalahan yang terjadi dalam pertumbuhan bahasa Indonesia terdiri atas 2 peristiwa, yaitu kesalahan persepsidan kesalahan transkripsi. Kedua-duanya, percayalah sangat menarik. Kita akan mulai dari yang salah persepsi.

  • Kepala. Asal-usul perkataan ini dari istilah arsitektur bahasa Italia, cupola, yaitu bagian paling tinggi yang terletak di atas atap bangunan, sebagai tambahan atau hiasan pengindah gedung. Selanjutnya sirah, hulu, tendas, berubah jadi kepala disesuaikan dengan yang di atas gedung.
  • Mariam (meriam). Ketika bangsa Melayu masih menembak denagn panah dan sumpit, bangsa Portugis datang membawa kanon yang dapat meledakkan bunyi gempita. Melihat orang Portugis menembak dengan membuat tanda salib sembari mengucapkan nama Maryam bunda Almaseh Isa, maka selanjutnya benda itu disebut mariam.
  • Cinta. Sebetulnya perkataan ini dalam bahsa Spanyol berarti tali pita. Di Indonesia Timur, orang yang di pertunangkan harus mengucapkan kasih sayangnya di bawah ikatan tali cinta tersebut, maka selanjutnya cinta pun berubah menjadi padanan kasih.
  • Roti. Perkataan ini berasal dari bahasa Belanda, brood yang dulu dijajakan di Bataavia dengan kereta kayuh, sambil diteriakan dengan tambahan 'iii', daan akhirnya terkupingkan menjadi 'brootiii'.
  • Minggu. Dalam bahasa portugis lama, Domingo, berarti Tuhan. Demi Domingo mereka pergi ke gereja untuk ibadah pada hari Ahad. Akhirnya Ahad berubah menjadi Minggu.
  • Kodak. Pada zaman lampau hanya ada satu merek kamera dan film yang ada di Indonesia. Oleh karena itu kegiatan fotografi pun disebut sebagaai kodak. Tukang foto disebut "Mat Kodak".

Sumber: INTISARI (Bahasa Menunjukkan Bangsa, Alif Danya Munsyi alias Remy Silado, Kepustakaan Populer Gramedia/emshol)   

Agka dan Pohon Keberuntungan

Sebagian dari kita hingga saat ini masih percaya bahwa angka tertentu bisa membawa nasib sial atau mujur. Misalnya, angka 4 atau 13 dipercaya membawa kesialan jika digunakan sebagai nomor rumah, ruang, atau lantai apartemen.
Sebagian lagi percaya bahwa angka 7,8, dan 9 adalah angka baik yang akan membawa keberuntungan. Di Hongkong, pemilik mobil sangat percaya bahwa angka 168 (baca I Liu Pah) adalah angka baik. Jika dipakai sebagai nomor kendaraan, angka ini dipercaya membawa keberuntungan dan keselamatan bagi pemiliknya. Itu sebabnya mobil dengan nomor pelat angka ini biasanya punya nilai jual yang sangat tinggi.
di tempat saya bermukim, sebuah perumahan di Cikarang, tidak ada rumah yg bernomor 4, 13, 14, 24, 34. Mungkin pengembangnya sangat memperhatikan fungsi fengsui sehingga menghindari penggunaan angka-angka yang dipercaya membawa kesialan itu. Dalam bahasa Mandarin, angka 4 dibaca shi. Bunyi ini terdengar sama dengan kata yang berarti "mati".
Sebagian orang juga percaya adanya pohon keberuntungan. Misalnya, pohon sri rezeki dipercaya bisa mendatangkan rezeki bagi pemiliknya. Contoh lain, pohon yang ditanam di depan rumahdipercaya akan menghalangi rezeki.
Di Jawa Tengah, sebagian orang percaya bahwa tebu hitam (jika ditanam di depan rumah) bisa menjauhkan rumah dari pencurian. Tapi syaratnya, kita harus mendapatkan bibit tebu ini dengan cara mencurinya dari rumah orang lain! Yaa, namanya juga kepercayaan :)

HIDUP untuk MATI

Walter Breuning meninggal dunia di sebuah panti jompo di Great Falls, Montana, AS, pada 14 April lalu. Ia bukanlah orang penting, bukan orang kaya, bukan artis, bukan pula tokoh supertenar. Nama Walter Breuning tercatat di Guinness Book Of Record edisi 2010 sebagai pria tertua di dunia. Ia meninggal pada usia 114 tahun. Istrinya, Agnes, telah meninggal pada tahun 1957 setelah pernikahan mereka berjalan 35 tahuntanpa dikaruniai anak. Sejak itu Walter tidak pernah menikah lagi.
Usia bisa demikian panjang, tentu berkaitan dengan pola hidup, pola makan, di samping kondisi fisiknya.
"saya tidak pernah punya pantangan makan, tetapi selalu membatasi makan dua kali sehari, dan itu cukup bagi hidup kita," katanyaa dalam wawancara 6 Oktober 2010. "dalam hidup, pikiran lebih penting daripada makanan. Gunakan pikiran untuk mengendalikan tubuh anda. Mind and body adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan; gunakanlah secara seimbang. Gunakanlah terus keduanya sepanjang hidup. Buatlah mereka terus sibuk, sepanjang hari.
Adakah ajaran lain yang bisa di bagikan kepada kita2 yg lebih muda? "terimalah perubahan, meski itu menampar muka anda. Yakinlah bahwa setiap perubahan itu baik."
"bekerjalah selama mungkin. Dengan begitu anda akan terus mendapatkan hasilnya."
"bantulah orang lain. Semakin banyak anda mengulurkan bantuan, jiwa anda akan semakin sehat."
Lalu setelah semua saran itu di ikuti, kiat apakah yang menjadi kunci panjang umur?
"jangan takut mati. Banyak orang takut akan kematian, tapi saya menerimanya. Saya belajar ini dari kakek saya. Dia bilang 'Semua orang akan mati, dan saya juga akan mati. Setiap saat.' Ya kita memang hidup untuk mati."
Tentu bukan kematian sia-sia yg kita sambut dengan senang, tapi kematian yang datang setelah kita mengisi hidup dengan kebaikan. Walter Breuning mengalaminya setelah menjalani hidup selama 114 tahun. Hidup kita mungkin tidak sama dengan dia, taapi kita memiliki kesiapan yang sama dengan dia.

Sumber: INTISARI

Sabtu, 19 November 2011

SURGA ATAU NERAKA??

Suatu pagi di salah satu sudut bumi Parahyangan, di sebidang tanah garapan yang tak terlalu luas. 
Mang Dudung dan Mamat anaknya, pemuda tujuh belas tahunan, sedang bekerja. Cres, cres, prah, cres, cres, prah. Sesekali berhenti untuk menyeka peluh yang bercucuran.
Wajah boleh sama-sama merona merah, bedanya pada pancaran wajah. Sambil bekerja Dudung membayangkan panen cabai,wortel dan sayur-mayur yang akan dipetiknya dalam kurun beberapa bulan ke depan.
Mamat meskipun menampakan keperkasaan remaja, tapi ekspresi wajah dan gerak-gerik tubuhnya jauh dari bertenaga. Lunglai. Sorot matanya sayu layaknya sorot pandang anak peminta-minta di perempat jalan di Jakarta. Sejak setahun lalu ia berniat hendak hengkang ke Jakarta, diajak beberapa temannya. Sayang Dudung berpikir lain. Kalau Mamat pergi, siapa yang akan membantunya menggarap ladang? Apalagi ia merasa peruntungannya baru saja terbuka, saat ia mulai bergabung dengan komunitas pertanian organik.
Mamat terus bekerja walau mulutnya terus cemberut. "lama-lama siksaan ini serasa di neraka," batinnya. Tiba-tiba terdengar suar orang bercengkrama yang makin mendekat. Dasar sedang jenuh, Mamat segera menemukan alasan. "Pak, aku ke kali dulu. Cuci muka!" teriaknya mencari alasan. Suara itu datang dari tepian kecil berarus deras yang airnya sebening kaca. Beberapa anak muda dari kota baru saja tiba, lalu duduk disana sambil mengobrol.
"Wow, hutan pinus, udara bersih nan sejuk, semilir angin, matahari pagi, pak tani di sawah. Bak lukisan! Indahnya!" Cetus seorang gadis sambil mengipas wajahnya yang keringatan.
Sejenak hanya gemericik air yang terdengar. semua orang terdiam terbawa suasana, menikmati pemandangan yang ada di depan mata mereka yang memang indah, damai, dan memukau. Beberapa menit kemudian, "Kau benar. Andai kita bisa hidup dalam udara sesegar dan alam seindah ini srtiap hari...aaah!"
"Aku juga ingin kalau lulus nanti akan mencari pekerjaan di pedesaan seperti ini saja. Serasa bekerja di surga," sambung pemuda yang lain.
Tercenung Mamat berjalan kembali menuju cangkulnya. "Jadi setiap hari aku ternyata hidup di dalam lukisan yang mereka idamkan itu!" Dirasakannya angin segar menyapu wajahnya, sinar matahari hangat memeluknya dan kicauan burung-burung yang merdu. Cangkul dihujamkannya dengan penuh energi. Surgaku aku datang! 

SEMUT

Sudah sejak lama, kiprah semut selalu menarik perhatian saya. Saya senang menyaksikan mereka bergotong royong membawa makanan ke sarang. Atau "berjabat tangan " saat saling bertemu di perjalanan. Lucunya.
Suatu kali, saya melihat seekor semut berjalan sendirian di tembok. Iseng-iseng saya letakkan butiran gula, tak jauh dari tempat semut tadi muter-muter. Hap! Umpan saya rupanya terendus oleh penciuman sang semut. Dia mendekati dan mencoba mengangkat butir gula tadi, sendirian. Namun tubuhnya langsung sempoyongan, dan tubuhnya terbalik. Mungkin ia tak kuat menahan beban itu. saking beratnya, ia terpaksa harus turun dulu, sambil menstabilkan tubuh.
Tapi ia pantang menyerah. Ia tetap berusaha mempertahankan potongan gula itu sekuat tenaga. Setelah sekitar setengah meter merayap turun, dengan susah payah si semut membalikkan lagi tubuhnya ke atas, lalu mengangkat makanannya merayap ke atas. Yap, ia berhasil merayap naik dan terus naik, ke tempat yang seharusnya ia tuju - rumahnya.
Saya amati terus semut itu sampai ditelan atap. Mungkin sekarang ia sedang menikmati makanannya, atau membagi-bagi makanan - yang di perolehnya dengan kerja sangat keras dan penuh cucuran keringat - itu bersama teman-temannya.
Terkadang kita mengalami apa yang semut itu alami, dihadapkan pada tugas atau tanggung jawab yang berat. Namun alangkah baiknya jika kita dapat belajar dari semut tadi, mencoba bertahan dan pantang menyerah saat dihadapkan pada tugas, pekerjaan, masalah, atau tanggung jawab yang terasa berat. Bukan hanya sekedar mengeluh dan mengeluh.
Pada awalnya sangat sulit dan kadang merasa putus asa, tapi jika kita mampu bertahan dengan gigih dan pantang menyerah, kita akan bisa mengatasi semua itu dan menikmati buahnya. Persis seperti si semut menikmati makanan yang besarnya hampir sama dengan ukuran tubuhnya.

Sumber: Intisari [Dian Pradana, di Surakarta] 

Ternyata susah ya ??

Ternyata susah juga buat blog itu :|
Jadi inget pertama kali buat blog gara-gara disuruh sama pak openk buat blog. Alhamdullilah yah sesuatu banget, aku jadi ga terlalu katrok-katrok banged sekarang :D hahahaha
Makasih yaaa pak udah ngasi tugas ini, bermanfaat soalnya :)


Bagiku nge-desain blog ga cukup sejam atau 3 jam, malah setahun ga mungkin cukup karena kekatrok.an ku >.< wkwkwkwkwk
hhmmm,, kadang yang jadi permasalahan waktu aku buat blog adalah mau ngisi tentang apa di blogku ini. bingungnya ga nanggung2 malah, butuh waktu yang lamaaa buat mikirnya --"
yaa ampuun padahal temen-temenku yang lain dengan gampangnya nemu inspirasi, kenapa aku ga yaa?? --" ckckck jadi heran sendiri.
tapi, dengan berkembangnya otakku, sekarang udah lumayan kan?? :D
biarpun ga nyambung atau ga bagus, gapapa yang penting karya sendiri :D
SEMANGAAT :D